Imam asy-Syafi'i rahimahullah (Wafat: 204H) menegaskan, “Tidak ada seorang pun melainkan ia wajib bermazhab dengan sunnah Rasulullah dan mengikutinya. Apa jua yang aku ucapkan atau tetapkan tentang sesuatu perkara (ushul), sedangkan ucapanku itu bertentangan dengan sunnah Rasulullah, maka yang diambil adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan demikianlah ucapanku (dengan mengikuti sabda Rasulullah).” (Disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam I’lam al-Muwaqq’in, 2/286)
__________________________________________________________________________________

| Nawawi | Aqeedah | Fiqh | Anti Syirik | Galeri Buku | Galeri MP3 | U-VideOo |
__________________________________________________________________________________

Rabu, 21 Januari 2009

145 - Tidak Wajib Berwudhu' Setelah Mandi Junub

Mandi Wajib Merangkumi Wudhu’

http://fiqh-sunnah.blogspot.com

Ibnu Abdil Barr berkata:

“Orang yang mandi junub, apabila tidak berwudhu’, namun jika dia telah membasahi seluruh tubuhnya, maka ia telah melaksanakan wudhu’, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan solat ... ... Jika kamu berjunub, maka mandilah.” (Surah al-Ma’idah, 5: 6) (Allah hanya memerintahkan supaya mandi. Tidak pula berwudhu’). Ini adalah ijma’, tidak ada perbezaan di antara ulama. Namun mereka juga sepakat akan sunnah berwudhu’ sebelum mandi, kerana berdasarkan (mencontohi) perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Selain itu, berwudhu’ lebih mempermudahkan mandi dan menjadikan mandi lebih tersa nikmatnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mandi sebagai mengakhiri larangan solat.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu solat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, melainkan sekadar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (Surah an-Nisaa’, 4: 43)

Apabila seseorang telah mandi, maka ia tidak dilarang untuk melakukan solat. Selain itu, mandi dan wudhu’ adalah dua ibadah yang sejenis, maka yang kecil masuk ke dalam yang besar. Sebagaimana Umrah masuk ke dalam Haji.

Dipetik dari: Ibnu Qudamah, al-Mughni, jil. 1, m/s. 366-367.

Rujuk juga artikel berkaitan Mandi Junub pada posting yang lepas:

Mandi Junub -
Klik

Mandi Hadas -
Klik

144 - Larangan Berjual Beli Di Dalam Masjid

Larangan Berjual Beli Di Dalam Masjid

http://fiqh-sunnah.blogspot.com/

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dia menyatakan:

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melarang menjual dan membeli di masjid, membacakan syair, mengumumkan kehilangan, dan bercukur pada hari Jumaat sebelum solat.” (Hadis Riwayat Ahmad (2/179), at-Tirmidzi (322), dan Abu Daud (1079))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Jika kamu melihat orang menjual atau membeli di masjid, maka katakanlah (kepada mereka), “Semoga Allah tidak memberi keuntungan di atas perniagaan kamu”.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi (1321). Dan at-Tirmidzi menghasankannya)

Imam asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan:

“Kedua-dua hadis tersebut menunjukkan bahawa diharamkan jual beli, pengumuman berkenaan kehilangan, pembacaan syair (di masjid), dan bercukur pada hari jumaat sebelum solat.” (Rujuk: Nail al-Authar, 2/271)

Berdasarkan hadis Abu Hurairah, Imam ash-Shan’ani rahimahullah menjelaskan:

“Hadis ini menunjukkan pengharaman jual beli di dalam masjid, dan orang yang menyaksikan transaksi tersebut hendaklah mengatakan dengan jelas, “Semoga Allah tidak memberi keuntungan di atas perniagaan kamu”, sama ada kepada pembeli atau penjual, sebagai peringatan untuk mereka yang melakukannya. (Rujuk: Subulus Salam, 1/413)